Kang Dedi Mulyadi (Bupati Purwakarta) bersama sang putra, setelah mencapai puncak Gunung Parang
Mungkin dari sekian banyak pejabat negara dan pemimpin daerah yang berani mengambil resiko untuk melakukan kegiatan memanjat tebing tanpa aturan protokoler kaku hanya beliau seorang, yaitu Bapak Dedi Mulyadi SH, Bupati Purwakarta, Jawa Barat, atau biasa yang dipanggil Kang Dedi Mulyadi.
Pada hari Selasa, 13 Desember 2016, merupakan hari yang bersejarah di Gunung Parang, ketika Kang Dedi mengunjungi Gunung Parang dalam perjalanan dinasnya bersama putranya dan rombongan.
Beliau menyempatkan diri untuk mencoba Via Ferrata di Badega Gunung Parang Basecamp Cirangkong, Purwakarta.
Kang Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta, Jawa barat, mencoba Via Ferrata di Badega Gunung Parang
Bagi kami dan para pemanjat tebing yang ada disana, inilah rekor pertama di dunia untuk panjat tebing dimana seorang pejabat negara dan pemimpin daerah melakukannya seperti layaknya tamu-tamu kami dan orang pada umumnya, tanpa aturan resmi kenegaraan, dan apa adanya.
Sungguh, kami yang ada di Badega Gunung Parang, dibuatnya kaget dan terharu, melihat seorang pemimpin yang begitu sederhana dan apa adanya, menyempatkan diri berkunjung ke tempat kami yang apa adanya, dan mencoba wisata petualangan yang ada disini.
Beliau juga sempat berseloroh bahwa sengaja kemari mengajak anaknya agar tidak menjadi anak yang manja dan sekaligus mengetahui pekerjaan Ayahnya yang tidak hanya duduk di kantor, tetapi juga memanjat tebing seperti yang dilakukannya sekarang.
Dwika Andika, Bapak H. Dedi Mulyadi, Anindika Widya berpose bersama setelah acara ramah tamah di Pendopo Kabupaten Purwakarta
Siang yang panas di penghujung musim kemarau 17 September 2015, tidak menyurutkan niat kami bersama para kru dan artis film “Air Mata Fatimah” bertemu dengan Bapak H. Dedi Mulyadi SH, selaku Bupati Purwakarta di Pendopo Kabupaten.
Bersama kami ada Dwika Andika, Anindika Widya, dan sutradara Oka Mahadi beserta kru dari PH Cosmics, sekaligus menyerahkan undangan pemutaran perdana film Air Mata Fatimah dan perkembangan Badega Gunung Parang sejauh ini.
Bupati Purwakarta, Bp. H Dedi Mulyadi SH, menyampaikan salam pembukaan untuk pemutaran film "Air Mata Fatimah"
Secara tidak langsung Bapak H. Dedi Mulyadi SH, menyampaikan pesan dan kesan tentang film Air Mata Fatimah yang telah mengambil lokasi syuting di Badega Gunung Parang, yang secara tidak langsung telah mengangkat salah satu keindahan alam di Purwakarta.
Dan beliau juga menyampaikan visi dan misinya ke depan tentang pengembangan pariwisata di Purwakarta dan lingkar Gunung Parang khususnya.
Diharapkan melalui film Air Mata Fatimah, kabupaten Purwakarta semakin dikenal lagi di Indonesia.
Badega Gunung Parang bersama para artis dan kru "Air Mata Fatimah"
Tidak hanya berhenti disini, PH Cosmic yang diwakili oleh sutradara Oka Mahadi menyampaikan rencananya untuk membuat satu film lagi yang akan mengambil tempat masih di lingkar Gunung Parang dan sekitarnya, dengan mengambil cerita yang bertemakan religi dan pendidikan.
Pada akhirnya, semua komponen bersinergi di Badega Gunung Parang, mulai dari budayawan, politikus, dan petualang, serta orang kampung untuk membawa nama Indonesia melalui sebuah film.
Sebuah film drama Indonesia dengan sentuhan religi, "Air Mata Fatimah" akan tayang tanggal 1 Oktober 2015 di seluruh bioskop di Indonesia.
Film yang dibintangi diantaranya oleh Dwi Andhika, yang kali ini berperan sebagai Ichsanudin, pacar Fatimah.
Karakter Fatimah diperankan oleh Syarifah Reihan, bintang baru yang hadir di jagad perfilm Indonesia.
Serta didukung oleh artis-artis senior dan pendatang baru antara lain Syarifah Reihan Afridila - Anindika Widya - Dwi Andhika - Reza Pahlevi - Dwi Sartika - Ali Kribo - Jian Batari - Oka Sugawa - Vikri Rasta - Violeta Mongi - Jajang C. Noer - Yafi Tesa Zahara
Apa hubungannya dengan Badega Gunung Parang?
Film yang mengambil lokasi sepenuhnya di Badega Gunung Parang, yang menggambarkan situasi kehidupan jaman dahulu kehidupan masyarakat desa di kaki sebuah Gunung.
Syuting film ini sendiri berlangsung selama hampir 20 hari di Badega Gunung Parang, dengan membawa seluruh perlengkapan, kru dan artis ke lokasi.
Bersama kami dengan seluruh kru dan artis film, semua berjibaku untuk menuntaskan film ini tanpa memikirkan kondisi alam yang sangat buruk, karena berada di penghujung musim hujan.
Awalnya tim produksi dari COSMIC Production House melihat potensi keindahan alam yang ada di Badega Gunung Parang dan beberapa kisah perjalanan Badega Gunung Parang yang tidak jauh berbeda dengan plot utama cerita di film Air Mata Fatimah, tentang keikhlasan dan kesabaran.
Inilah kesabaran yang berujung manis, Film "Air Mata Fatimah" kini siap tayang dan dapat dinikmati oleh seluruh dunia.
Mifta (Emip) solo climbing at Mount Parang, Purwakarta
Sebuah prestasi dan rekor baru telah dibuat oleh seorang anak kampung Cihuni, Gunung Parang, Miftah, yang sehari-harinya bekerja sebagai supir truk angkut, melakukan solo climbing di rute “Mbah Jambrong”, Grade 5.10, Tower 3 Gunung Parang.
Rekor baru yang diciptakan tanggal 2 Januari 2014 ini, menunjukkan bahwa dunia panjat tebing Indonesia memasuki tingkat yang lebih ekstrim lagi, sejak panjat tebing dikenalkan pertama kali di Indonesia oleh Harry Suliztiarso dan kawan-kawan dari Skygers.
Solo Climbing adalah panjat tebing tanpa menggunakan alat pengaman dan tali, dan sepenuhnya bergantung pada kemampuan dan pengalaman pemanjat itu sendiri. Resiko dari Solo Climbing tidaklah main-main, karena nyawa adalah taruhannya disini.
Miftah, biasanya dipanggil, Emip, bukannya tidak tahu resiko yang diambil, karena Solo Climbing yang dilakukannya adalah keinginannya sendiri bukan dorongan dari pihak lain. Dan bagaimanapun juga olah raga panjat tebing sendiri sudah mengandung resiko bahaya bagi para pemanjat apapun gaya dan teknik pemanjatan yang dilakukan.
Jalur "Mbah Jambrong" Grade 5.10, Tower 3, Gunung Parang
Prestasi yang bersejarah ini, membuktikan bahwa anak kampung Cihuni, berbakat untuk menjadi pemanjat tangguh yang lahir secara alami, dan pantas untuk disejajarkan pemanjat kelas dunia lainnya.
Rute “Mbah Jambrong” yang digunakan Miftah untuk melakukan solo climbing adalah rute baru yang dibuatnya bersama Heri “Caca” dan anak-anak muda kampung Cihuni lainnya. Rute ini adalah rute pemanjatan “Trad”, yang sepenuhnya mengandalkan pengaman “Friend” dan “Chockstone, dan hanya pada masing-masing Pitch dipasang “Bolt” untuk “Anchor”, dan memiliki tingkat kesulitan 5.10.
Bukannya tanpa kesulitan Miftah melakukan solo climbing di rute ini, pada rute Pitch 2 ke 3 terjadi sedikit ketegangan karena salah satu pijakannya meleset saat melakukan gerakan “Dyno”, namun akhirnya bisa diselesaikan dengan sukses.
Target selanjutnya, Miftah akan melakukan solo climbing di rute legenda “240” Tower 2, Gunung Parang, dan jika ini berhasil, maka target-target internasional segera dilakukannya dengan mencari beberapa sponsor untuk mendukung pemanjatan solo lainnya.
Semoga sukses dan Allah SWT selalu memberkati dan menyertaimu !
Lihat videonya di Youtube !
An achievement and a new record has been created by a hometown boy Cihuni, Mount Parang, Miftah, the day-to-day work as a freight truck driver, perform solo climbing on the route "Mbah Jambrong", Grade 5:10, Tower 3 Mount Parang.
Created a new record date of January 2, 2014, shows that the world of rock climbing Indonesia entered the more extreme level, since the climbing was first introduced in Indonesia by Harry Suliztiarso and friends from Skygers.
Solo Climbing is a climbing skill without the use of safety devices and ropes, and wholly dependent on the ability and experience of climbing itself. The risk of Solo Climbing is not messing around, because lives are at stake here.
Miftah, usually called, Emip, instead of do not know the risks taken, as Solo Climbing is desire itself does not encouragement from others. And after all sport climbing itself already contains a hazard for any climber climbing styles and techniques are performed.
This historic achievement, proving that the village boy of Kampung Cihuni, gifted to be a strong climber who was born naturally, and deserve to be aligned more world-class climbers.
These "Mbah Jambrong" climbing route that Miftah used to perform solo climbing a new route that is made with Heri "Caca" and young children Cihuni other villages. Climbing routes are "Trad", which fully rely on safety "Friend" and "Chockstone, and only on each Pitch installed" Bolt "to" Anchor ", and has a level of difficulty 5:10.
Not without difficulty Miftah do solo climbing on this route, the route Pitch 2 to 3 occurs a little tension because one slip footing when the motion "Dyno", but eventually can be completed successfully.
The next target, Miftah will perform solo climbing in the legend route is "240" Tower 2, Mount Parang, and if this is successful, then the international targets immediately do with looking for some
Nama lengkapnya sampai saat ini kami tidak pernah tahu, namun yang kami kenal adalah Pak Heru atau lebih dikenal Abah Ujo. Tapi bagi kami apalah arti sebuah nama bagi seorang sahabat, guru, orang tua seperti Abah Ujo. Dan ketika pada akhirnya Allah Subhanna wata'ala memanggil, tibalah saatnya kami harus berpisah dengannya. Perkenalan yang cukup singkat saat Badega Gunung Parang diprakarsai dan digulirkan diseluruh lingkar gunung Parang.
Dengan semangat yang tidak mengenal lelah di usia yang sudah renta, dan guratan perjalanan hidup yang keras di belantara metropolitan dan kota-kota lainnya, serta coretan takdir dunia hitam yang melegenda di tahun delapan puluhan, membuat sosoknya begitu keras dan membuat takzim bagi yang baru mengenalnya. Pertemuan kami dengan beliau seperti juga perpisahan kami, tidak pernah di duga sebelumnya. Semuanya serba cepat, saat kami baru saja mengenal dan mendukung satu sama lain dari beragama aspek dan sudut pandang tentang Badega Gunung Parang. Ketika Badega Gunung Parang banyak di cecar dan di kritik oleh beragam pihak saat awal berdirinya karena tebaran informasi yang salah dan beragam kritikan, beliau dengan lantang dan berdiri tegak serta menantang arus untuk mendukung kami habis-habisan. Dan kami diyakini bahwa inisiatif Badega Gunung Parang untuk meningkatkan ekonomi lingkar Gunung Parang bukanlah hal sia-sia, dan kelak semua orang akan mendukung kami, bahkan berlomba-lomba membuat wisata sejenis di lingkar Gunung Parang.
Beragam petuah dan nasehat dari seorang Sufi seperti beliau, seperti air mengalir di sungai. Tiada henti berurai setiap malam disaungnya atau di tempat kami, sampai subuh menjelang. Diskusi kecil tentang ilmu Falaq dan Tauhid terus berlanjut setiap malam tanpa henti dengan beliau. Dan kehidupan memang rahasia serta milik sepenuhnya Illahi Rabb, manusia berencana dan DIA menentukan. Banyak rencana yang kita bangun dari mimpi dan kenyataan saat bersama-sama Abah Ujo setiap malam, dan semua tidak berakhir begitu saja. Kini kami harus berjuang kembali dengan semangat dan ketegaran yang dimiliki Abah Ujo. Semoga Allah Subhannawata'ala, mengampuni dosa-dosanya dan menempatkan beliau bersama para pejuang jihad di SurgaNya yang tertinggi.
Pesta Seni dan Budaya di Badega Gunung Parang akan diadakan tanggal 28 Mei 2014, acara yang digagas oleh Badega Gunung Parang dan Pemerintah Kabupaten Purwakarta, akan berlangsung mulai pagi sampai tengah malam.
Acara ini juga diisi oleh bakti sosial (Pengobatan Gratis dan Khitanan Masal) untuk masyarakat sekitar Gunung Parang dan malamnya dilanjutkan dengan acara Apresiasi Seni dan Budaya.
Diharapkan acara ini dapat memberi manfaat bagi masyarakat dan sekali merengkuh beragam tujuanpun tercapai demi pengembangan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat di sekitar Gunung Parang.
Pesta Seni dan Budaya di Badega Gunung Parang akan diadakan tanggal 28 Mei 2014, acara yang digagas oleh Badega Gunung Parang dan Pemerintah Kabupaten Purwakarta, akan berlangsung mulai pagi sampai tengah malam.
Acara ini juga diisi oleh bakti sosial (Pengobatan Gratis dan Khitanan Masal) untuk masyarakat sekitar Gunung Parang dan malamnya dilanjutkan dengan acara Apresiasi Seni dan Budaya.
Diharapkan acara ini dapat memberi manfaat bagi masyarakat dan sekali merengkuh beragam tujuanpun tercapai demi pengembangan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat di sekitar Gunung Parang.
Ada beberapa jalur pemanjatan di Gunung Parang, tetapi ada satu jalur pemanjatan yang paling populer sampai saat ini yaitu di Tower 3, rute pemanjatan ini lebih dikenal sebagai jalur Kopassus. Karena awalnya memang dirintis oleh Skygers bersama-sama TNI Kopassus, selanjutnya digunakan oleh mereka berlatih disini beberapa kali, sebelum akhirnya Pasukan Khusus TNI ini pindah ke Tower 2 untuk lokasi latihannya. Dan sesuai dengan perkembangannya, jalur ini sempat direstorasi oleh beberapa pemanjat lainnya sampai dengan kondisi yang sekarang. Sayang sekali hal ini tidak terdokumentasikan dengan baik sebelumnya, sehingga, pihak Badega Gunung Parang kesulitan siapa-siapa saja pihak yang membuat sampai dengan merestorasi jalur ini. Sampai sekarang jalur ini relatif lebih ramai dikunjungi daripada jalur-jalur pemanjatan lainnya yang ada di sekitar Gunung Parang, karena relatif lebih dekat aksesnya dan lebih sesuai untuk para pemula belajar, meski tidak mudah untuk dipanjat. Jalur Kopassus memiliki tingkat kesulitan bervariasi dari Grade 5.8 sampai dengan 5.11 di beberapa etape pemanjatan. Dengan jumlah teras (pitch) 8 sampai dengan 9 jika ingin diteruskan ke puncak Tower 3. Namun biasanya para pemanjat menyelesaikan pemanjatan pada teras ke 7 karena selebihnya harus memanjat semak belukar.
Tipe Jalur Sport
Jalur ini sudah terpasang bor pengaman dari bawah sampai atas dengan kondisi beberapa di pitch 3 ke atas sudah sedikit berkarat, namun masih bisa dipakai sebagai pengaman. Kedepannya akan segera direstorasi oleh pihak Badega Gunung Parang untuk meningkatkan faktor keselamatan pemanjatan nantinya. Dengan bor yang terpasang dari bawah sampai atas, jalur ini bisa dikategorikan jalur sport. Namun tidak menutup kemungkinan, di beberapa titik jika pemanjat ragu bisa menggantikannya dengan alat pengaman pegas (Friend / Cam) atau paku (piton).
Jalur Panjat ke Teras 1
Di awali dengan celah memanjang tegak lurus ke atas, pemanjatan dilakukan. Di etape ini pemanjat banyak menggunakan teknik menjejal tangan dan kaki pada celah tersebut. Dan teknik ini berakhir sampai pada teras pertama.
Teras Kedua - Ketiga
Dari teras kedua, pemanjat dapat melanjutkan pemanjatan dengan memanfaatkan beberapa rekahan maupun tonjolan yang cukup banyak. Kemiringan dinding sekitar 60' - 70 dengan Grade sekitar 5.9, cukup mudah dilalui jika pemanjat dapat memanfaatkan keseimbangan disini. Sampai akhirnya pemanjat dapat beristirahat di teras kedua.
Jalur Panjat ke Teras 2
Jalur Air Terjun
Pada etape teras kedua dan ketiga pemanjat tidak akan menemukan kesulitan yang berarti, karena pengaman bor cukup banyak. Dan tingkat kesulitan masih berkisar di 5.9, relatif tidak begitu sulit bagi para pemula. Namun memasuki etape teras ketiga dan keempat, pemanjat akan menemui sedikit kesulitan (Crux) di bagian celah besar. Karena pada rute ini jika hujan turun menjadi air terjun mini, dan cukup merepotkan jika harus memanjatnya.
Jalur Panjat ke Teras 3
Jalur Panjat ke Teras 4
Namun jika cuaca cerah, jalur ini juga tidak kalah menyulitkan karena pegangannya yang minim, dan jika ingin mudah dapat melalui celah yang besarnya tubuh orang dewasa. Di teras keempat, pemanjatan dilanjutkan dengan berpindah (traverse) ke kiri, menyusur celah dibawah dinding menggantung (overhang) dan menjumpai selanjutnya teras kelima yang jaraknya hanya sepuluh meter.
Bolt to Bolt
Pemanjatan dari teras kelima dan keenam, dilanjutkan dengan teknik pemanjatan menggunakan alat / tangga (aid climbing), karena pemanjat harus melaluinya dengan mengaitkan tangga dari hanger satu ke hangar lainnya sampai mencapai teras keenam. Jalur ini lebih dikenal dengan jalur 'bor tu bor' (bolt to bolt).
Jalur Panjat ke Teras 6
Di teras ke enam, pemanjatan bisa dilanjutkan dengan melalui celah yang banyak ditumbuhi semak belukar, dan selanjutnya bisa bermalam dibawah ceruk batu jika ingin bermalam diatas sana, untuk melanjutkan pemanjatan dihari berikutnya, atau bisa langsung turun lagi ke bawah.
Semua tergantung keputusan dan kondisi fisik masing-masing pemanjat.
Cuaca terbaik
Adalah bulan Juni - September, cuaca terbaik untuk memanjat di Gunung Parang. Mengingat di luar bulan-bulan itu, hujan akan sangat mengganggu pemanjatan, karena menyebabkan batuan andesit ini sangat licin. Dan disarankan jika memanjat di musim panas, para pemanjat untuk membawa air yang banyak karena akan lebih mudah terserang dehidrasi.
Jalur Panjat ke Teras 7
Pengaman lainnya
Disarankan untuk membawa pengamanan cadangan seperti pengaman pegas (friend / cam) atau pengaman paku (piton), atau pengaman penjejal (chockstone), jika ingin memanjat rute pemanjatan lainnya. Untuk keselamatan, disarankan juga membawa bor (Rockpack / Hand Drill) dengan beberapa mata bor dan penggantung (hanger).
Jangan tinggalkan sampah
Untuk para pemanjat yang memanjat di Gunung Parang, disarankan untuk membawa sampah-sampahnya kembali turun. Hal ini untuk menjaga kelestarian dan kebersihan tebing Gunung Parang agar bisa dinikmati para pemanjat berikutnya.
Informasi
Silahkan menghubungi pihak Badega Gunung Parang (+62 8787 4708230) jika ada pertanyaan, klarifikasi, dan konfirmasi atas jalur ini.
Ngarumat Gunung Parang, sebuah festival seni dan budaya sunda di Gunung Parang
Awalnya hanya sebuah mimpi ingin membuat sebuah acara di Gunung Parang. Namun dari beberapa diskusi dan candaan kecil dengan grup karinding KASUNDA (Kampung Seni Urang Sunda) yang dipimping Kang Asep, dan akhirnya membuncah dengan beberapa rekan penggiat budaya Sunda seperti Kang Riki Priatna dan Abah Dedi, sampai pada akhirnya dengan beberapa rekan-rekan yang lain seperti Kang Dicky, Kang Wawan, Teh Kanaya. Mimpi ini sedikit demi sedikit mulai menampakkan wujudnya, seperti sebuah bola salju kecil yang menggelinding dari atas puncak gunung, dan semakin menjadi bola salju raksasa.
Foto Bersama Bapak Bupati Purwakarta, H Dedi Mulyadi SH, di kediaman dinas setelah berdiskusi kecil untuk acara Ngarumat Gunung Parang 2014
Ditambah lagi saat Badega Gunung Parang, yang diwakili oleh Kang Wawan, Apih Yunus, Kang Muhi, Mang Kartolo, bertemu dengan Bapak Bupati Purwakarta, H Dedi Mulyadi SH, pada Selasa, 4 Maret 2014 di kediaman dinasnya untuk melaporkan perkembangan kemajuan Badega Gunung Parang. Disana kami sempat berdiskusi kecil dengan Bapak Dedi tentang sebuah acara mengangkat seni dan budaya Sunda yang hilang, dan ada akhirnya beliau memutuskan untuk mendukung acara ini dan sekaligus dijadwalkan sekaligus pada tanggal 11 April 2014, yang insyaallah akan dihadiri beliau langsung. Dalam hati kami, ini benar-benar sebuah berkah dari Allah SWT di awal Maret 2014 untuk Badega Gunung Parang, dimana seorang Pemimpin Daerah menerima kami dari Kampung dan akhirnya mendukung acara ini sepenuhnya, dan disaat kami harus berjuang mati-matian untuk penyelenggaraan acara ini. Dan persiapanpun dimulai, sekaligus kami harus segera bangun dari mimpi ini untuk segera mewujudkannya. Jadi jangan pernah takut bermimpi, meski kita bukan siapa-siapa!
Siapa sangka di Gunung Parang yang terletak di kampung Cihuni, desa Sukamulya, Purwakarta adalah habitat beragam binatang liar, diantaranya adalah Elang Jawa (Spizaetus bartelsi / Nisaetus bartelsi)
Burung yang hanya bisa dijumpai di pulau Jawa, Indonesia ini, sejak tahun 1992 ditetapkan sebagai satwa langka oleh Pemerintah Indonesia dan beberapa orang mengindentifikasikannya sebagai burung Garuda, lambang negara Republik Indonesia.
Elang Jawa
Terancam Punah
Elang jawa memiliki jambul yang menonjol dikepalanya dan rentang sayap yang terkadang hampir mencapai 2 meter. Ukuran tubuhnya sendiri berkisar antara 50 sampai dengan 100 centimeter, berbulu coklat gelap pada punggung dan sayap. Jika terbang Elang Jawa selalu bersuara nyaring seolah hanya dialah penguasa wilayah sekitar. Dengan sorot matanya yang tajam dan jelajah terbang yang tinggi, burung ini menjadi menonjol diantara satwa-satwa yang lain di wilayah Gunung Parang.
Secara pasti populasi Elang Jawa berdasarkan informasi terakhir dari para peneliti diperkirakan tinggal 500 ekor yang tersebar di Pulau Jawa sampai saat ini. Dan Badan Konservasi Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa mengategorikannya terancam punah. Konvensi Perdagangan Internasional untuk Flora dan Fauna yang Terancam Punah memasukkannya dalam Apendiks 1 yang berarti mengatur perdagangannya ekstra ketat. Berdasarkan kriteria keterancaman terbaru dari IUCN, Elang Jawa dimasukan dalam kategori Endangered atau “Genting” (Collar et al., 1994, Shannaz et al., 1995). Melalui Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 1993 tentang Satwa dan Bunga Nasional, Pemerintah RI mengukuhkan Elang Jawa sebagai wakil satwa langka dirgantara.
Harapan terakhir di BADEGA
Kawasan Gunung Parang yang masih memiliki hutan liar seluas 70 hektar, yang saat ini dikelola oleh masyarakat secara swadaya melalui BADEGA GUNUNG PARANG. Mencoba untuk membangkitkan kepedulian masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan, budaya, dan seni yang berbasiskan pada alam.
Dan dikawasan ini pula digalakkan pelestarian lingkungan melalui penghentian penebangan hutan secara membabi buta, mencegah pengrusakan dan penggalian batu, dan vandalisme yang berlebihan di sekitar Gunung Parang itu sendiri, sampai dengan penataan lingkungan untuk sebuah wisata yang berbudaya.
Melalui BADEGA GUNUNG PARANG, Elang Jawa menaruh harapan terakhirnya untuk tetap hidup di alam pulau Jawa.
Kalau hanya untuk melihat sawah berumpak (terasiring) atau hanya berjalan-jalan dipematang sawah hijau yang segar, tidak perlu ke Ubud (Bali), tetapi kunjungilah Badega Gunung Parang, sebuah tujuan wisata di sekitar Purwakarta, tepatnya di Kampung Cihuni, Desa Sukamulya.
Disinilah surga yang hilang itu berada, dengan lanskap yang dikelilingi gunung batu dan sawah berumpak, ditambah dengan kehidupan khas pedesaan, lengkap sudah pemandangan pedesaan tempo dulu yang hanya ada di lukisan atau karya fotografer kelas dunia, tersedia lengkap disini.
Lupakan Bali, berkunjunglah ke Badega Gunung Parang, Purwakarta !