Showing posts with label budaya. Show all posts
Showing posts with label budaya. Show all posts

Monday, July 28, 2014

Selamat Hari Raya Idul Fitri (Happy Eid Mubarak 1435 Hijriah)


Seluruh Keluarga
BADEGA GUNUNG PARANG
mengucapkan 
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 Hijriah
Mohon Maaf Lahir dan Batin
Semoga amal ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima disisi Nya dan mengampuni segala dosa, kilaf dan kesalahan kita selama ini.

Sabar dan Ikhlas akan segala ujian adalah kunci untuk merengkuh Rahmat Nya
Amin Ya Rabb

Thursday, June 5, 2014

Mengangkat Seni dan Budaya ditengah kritikan

Bapak H Dedi Mulyadi SH, Bupati Purwakarta, membuka acara Pesta Seni & Budaya, 28 Mei 2014

Tidak dipungkiri ketika ide acara ini digulirkan sudah menuai banyak kritikan, kecaman, dan ejekan, bahkan ada juga yang memuji.
Ki Soun membawa Tumpeng Ruwatan

Tapi pihak Badega Gunung Parang, bersikukuh bahwa acara Pesta Seni dan Budaya akan tetap digelar setelah Pesta Rakyat. Dan dalam satu bulan, Badega Gunung Parang menggelar berturut-turut dua kali acara berskala besar. Sungguh suatu hal yang tidak mungkin jika dilihat dari sumber daya yang ada.

Namun, dengan penuh keyakinan dan keikhlasan, akhirnya terlaksana sudah dua gelaran Pesta Seni dan Budaya di kaki Gunung Parang, yang pertama tanggal 21 Mei 2014, acara PESTA RAKYAT dan yang kedua tanggal 28 Mei 2014 acara PESTA SENI DAN BUDAYA.
Semuanya diselenggarakan sepenuhnya oleh pihak BADEGA GUNUNG PARANG, dan tentu saja dibantu penuh oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Purwakarta serta Kampung Seni Urang Sunda - KASUNDA.


Ki Soun (Badega) dan Kang Deni (Kasunda) berdiskusi sebelum acara
Acara ini menjadi tonggak sejarah baru bagi Seni dan Budaya Sunda, karena sepenuhnya acara semacam ini belum pernah digelar sama sekali di kaki Gunung Parang.
Bahkan beberapa seni dan budaya Sunda yang diangkat sudah tidak dikenal lagi oleh warga kampung sekitar Gunung Parang.  
Kang Yunus membawa Padi

Hampir satu bulan penuh Kampung Seni Urang Sunda (KASUNDA) yang dipimpin oleh Kang Asep dan Kang Deni beserta krunya, bahu membahu bersama Badega Gunung Parang memperkenalkan seni dan budaya Sunda di kalangan warga.

Ditengah kecaman, cacian, dan bahkan makian beragam pihak, Badega Gunung Parang bersama KASUNDA terus menggulirkan ide kreatif ini di tengah warga kampung sekitar Gunung Parang, dan alhamdulillah akhirnya diterima dengan tulus ikhlas.

Sebuah perjuangan yang tidak mengenal lelah dan layaknya sebuah bibit Seni dan Budaya Sunda kini telah disebar di seluruh kaki Gunung Parang, dan tinggal menunggu panennya kelak, Semoga berbuah manis!


Tarian kreasi Bupati Purwakarta


Tuesday, June 3, 2014

Sejarah baru telah diukir di Gunung Parang

Ki Soun membacakan Rajah
Rabu, tanggal 21 Mei 2014, adalah hari yang dinantikan oleh semua warga kampung Cihuni dan warga kampung lainnya yang ada dilingkar Gunung Parang. 


Inilah Pesta Rakyat 
Bagaiamana tidak ditunggu-tunggu, acara yang awalnya akan kita gelar sejak bulan Maret 2014, ternyata harus diundur beberapa kali karena jadwal Bupati Purwakarta, Bapak H Dedi Mulyadi SH, sangat padat, sedangkan beliau berkeinginan sekali untuk menghadiri acara ini.
Beragam cibiran, kritikan, cacian, bahkan pertanyaan, menghujam kami di Badega Gunung Parang, tentang jadinya acara ini. Namun kami tetap berkeyakinan bahwa acara siap kami gelar dengan segala resiko dan 
kondisi yang terjadi nantinya.



Legenda Nyi Ronggeng seolah hadiri di malam ini
Beberapa warga kampung bahkan mempertanyakan apakah acara ini digelar atau tidak, begitu pula beberapa rekan media, kerabat, dan semua orang mengajukan pertanyaan yang sama.

Awalnya kami cukup gentar dengan pagelaran acara ini, karena disatu sisi kami hanya sebagai warga kampung biasa yang tidak memiliki dana cukup untuk gelaran akbar ini, hanya bermodal nekad dan keyakinan saja. 


Celempung dan Karinding turut dimainkan

Tapi disisi lain, rekan-rekan kami dari Kampung Seni Urang Sunda (KASUNDA) mendukung kami untuk bahu membahu mempertajam ide dan kreatifitas bersama anak-anak kami dari mulai kampung Cihuni, Cikandang, dan Cisarua di Badega Gunung Parang.

Pagelaran akbar ini, tidak terlepas dari bantuan total dari pihak KASUNDA yang sudah sebulan penuh mempersiapkan acara ini tanpa memperhitungkan lagi waktu, tenaga, dan perasaan yang terbuang, semuanya totalitas untuk pengembangan seni dan budaya di lingkar Gunung Parang.
Kang Wawan, Ketua Badega Gunung Parang
Dan tibalah berita tanggal 16 Mei 2014, Jumat sore hari, ketika kita baru saja meeting dari Purwakarta. Salah seorang staf protokoler Bupati, mengabarkan kepada kami bahwa acara minta diundur kembali tanggal 28 Mei 2014, karena Bapak Bupati Purwakarta akan menghadiri acara lain.
Bagai disiram air ditengah gelegak api kreatifitas yang membara, pupus sudah harapan kami!

"Tuhan tidak tidur kok!", seru Mang Yunus, salah satu penggagas Badega Gunung Parang, "Kita teruskan saja, toh! semua sudah siap", tegasnya.
"Soal sound system apa adanya aja, kan acara tahun baru kemarin kita bisa".

Seperti sebuah teh manis di pagi buta, memberi semangat dan harapan untuk rekan-rekan KASUNDA dan anak-anak muda lainnya yang mempersiapkan acara ini.

Tanpa berpikir panjang lagi, semua orang sepakat kalau acara tanggal 21 Mei 2014 nanti jadi digelar, apapun hasilnya.


Dan akhirnya, malam PESTA RAKYAT BADEGA GUNUNG PARANG digelar tepat pada waktunya, tanpa kehadiran seorang Bupati Purwakarta dan aparat pemerintahan lainnya, kecuali Bapak Camat Tegalwaru.

Bapak Camat Tegalwaru membuka acara
Dengan penuh khidmat, acara dibuka dengan pembacaan Rajah oleh Ki Soun, salah seorang Badega Gunung Parang, yang sehari-hari menjaga situs makam Ki Pat Tinggi.

Hening dan khusuk pembacaan rajah dengan diiringi oleh dentuman Go'ong Tiup (sebuah terompet bambu). 
Bau dupa menyengat dengan tiupan angin yang menghentak tiba-tiba, menandakan alampun bersama kami menikmati acara ini.


Citra, sang penari Jaipong


Seni Kaulinan Anak yang sudah lama hilang di lingkar Gunung Parang
Dengan kekuatan yang tidak biasa, Citra, seorang penari jaipong dari KASUNDA, menghentakkan kakinya di tegalan sawah yang menjadi panggung alami malam ini. Seolah menghidupkan kembali legenda Nyi Ronggeng di kaki Gunung Parang.

Semua khusuk, semua bergembira, dan semua larut, bahkan alampun ikut hanyut dengan bintang gemintang yang bertaburan di angkasa.

Sebuah sejarah baru terukir di kaki Gunung Parang, sebuah seni dan budaya yang telah lama hilang kembali dihadirikan oleh Badega Gunung Parang dan Kampung Seni Urang Sunda (KASUNDA) dari Rancaekek Bandung.


Padi dan Tumpeng menyimbolkan syukur atas rejeki yang diberikanNYA
Inilah persembahan yang paling indah dari Rakyat untuk Rakyat!




Thursday, March 6, 2014

Ngarumat Gunung Parang 2014, Awal sebuah mimpi

Ngarumat Gunung Parang, sebuah festival seni dan budaya sunda di Gunung Parang


Awalnya hanya sebuah mimpi ingin membuat sebuah acara di Gunung Parang. 

Namun dari beberapa diskusi dan candaan kecil dengan grup karinding KASUNDA (Kampung Seni Urang Sunda) yang dipimping Kang Asep, dan akhirnya membuncah dengan beberapa rekan penggiat budaya Sunda seperti Kang Riki Priatna dan Abah Dedi, sampai pada akhirnya dengan beberapa rekan-rekan yang lain seperti Kang Dicky, Kang Wawan, Teh Kanaya. 
Mimpi ini sedikit demi sedikit mulai menampakkan wujudnya, seperti sebuah bola salju kecil yang menggelinding dari atas puncak gunung, dan semakin menjadi bola salju raksasa.

Foto Bersama Bapak Bupati Purwakarta, H Dedi Mulyadi SH, di kediaman dinas setelah berdiskusi kecil untuk acara Ngarumat Gunung Parang 2014

Ditambah lagi saat Badega Gunung Parang, yang diwakili oleh Kang Wawan, Apih Yunus, Kang Muhi, Mang Kartolo, bertemu dengan Bapak Bupati Purwakarta, H Dedi Mulyadi SH, pada Selasa, 4 Maret 2014 di kediaman dinasnya untuk melaporkan perkembangan kemajuan Badega Gunung Parang.

Disana kami sempat berdiskusi kecil dengan Bapak Dedi tentang sebuah acara mengangkat seni dan budaya Sunda yang hilang, dan ada akhirnya beliau memutuskan untuk mendukung acara ini dan sekaligus dijadwalkan sekaligus pada tanggal 11 April 2014, yang insyaallah akan dihadiri beliau langsung. 
Dalam hati kami, ini benar-benar sebuah berkah dari Allah SWT di awal Maret 2014 untuk Badega Gunung Parang, dimana seorang Pemimpin Daerah menerima kami dari Kampung dan akhirnya mendukung acara ini sepenuhnya, dan disaat kami harus berjuang mati-matian untuk penyelenggaraan acara ini.

Dan persiapanpun dimulai, sekaligus kami harus segera bangun dari mimpi ini untuk segera mewujudkannya.

Jadi jangan pernah takut bermimpi, meski kita bukan siapa-siapa!
  

Thursday, December 19, 2013

Pertama kali Pesta Rakyat di Gunung Parang


Bapak Bupati Purwakarta, H Dedi Mulyadi SH mengunjungi tempat wisata Badega Gunung Parang
Para tamu menikmati suguhan khas kampung Cihuni, Nasi Liwet 
Bapak H Dedi Mulyadi SH, Bupati Purwakarta, menandatangani kelotok kerbau sebagai maskot BADEGA GUNUNG PARANG

Kelotok kerbau yang telah ditandatangani dikalungkan kepada Kang Wawan Lukman Hidayat, sebagai Ketua BADEGA GUNUNG PARANG

Karinding Bambu yang dimainkan oleh KASUNDA, menambah gemuruhnya suasana di kaki gunung Parang

Foto Bersama Bupati Purwakarta, Bp. H Dedi Mulyadi SH, sekarang dan selamanya semua melebur menjadi Badega Gunung parang


KASUNDA on stage bersama kerbau di latar belakang

Kursus singkat Karinding bersama KASUNDA

Masyarakat Kampung Cihuni berpesta

Bapak Camat Tegalwaru, bergembira bersama

Generasi penerus Kampung Cihuni

Kelak mereka yang akan mewarisi BADEGA GUNUNG PARANG

Pertama kali dalam sejarah Gunung Parang, terjadi pesta Rakyat yang diadakan di Kampung Cihuni.

Pesta Rakyat yang diadakan oleh Badega Gunung Parang adalah awal dari revitaliasi budaya Sunda yang ada di wilayah Gunung Parang.
Bekerja sama dengan komunitas karinding sunda (KASUNDA) dari Rancaekek, Bandung, pimpinan Asep Hendra, secara sporadis memaikan karinding di tengah keheningan Gunung Parang yang megah, dan membawa para penonton ke imajinasi purba di kala Gunung Parang Parang masih dibawah kerajaan Pajajaran.

Kelak pesta ini akan diadakan setahun sekali dan merupakan event tahunan yang akan digelar di kaki Gunung Parang.

Cek foto lengkapnya di http://facebook.com/kampungcihuni



Sunday, November 3, 2013

Lupakan menjadi orang KOTA, mari menjadi orang KAMPUNG !


Jika anda pergi ke Purwakarta, sempatkan untuk berkunjung ke Kampung Cihuni, hanya 15 km dari pusat kota.

Anda akan diajak untuk melupakan sejenak kepenatan ritme kehidupan di kota besar, dan waktupun berhenti berputar sejenak disini.

Lupakan basa basi orang kota, mari kita menjadi orang kampung sejenak dan belajarlah ketulusan dan kearifan di Kampung Cihuni.



Friday, November 1, 2013

Kearifan budaya kampung


Di kampung Cihuni, yang hanya berjarak 3 jam perjalanan dari Jakarta, ternyata kita dapat menjumpai kearifan yang sulit ditemui di kota besar, atau bahkan di kota kecil sekalipun. Disini kita dapat belajar bagaimana menghormati para lelulur.

Salah satu contoh, adalah Kang Soun, dia adalah penduduk asli disini dan kemudian mengadu peruntungan menjadi mandor proyek yang sukses di Jakarta, dan entah kenapa,kemudian beliau kembali lagi ke kampung dan mengawali lagi kehidupannya dengan merawat 'petilasan-petilasan' para leluhur yang banyak bertebaran di kaki Gunung Parang hingga kini.

Awalnya, dia di cap oleh warga sebagai 'orang gila' karena merawat batu-batu berserakan yang tidak jelas dan hanya buang-buang waktu. Tapi lambat laun, wargapun menaruh hormat kepadanya karena dia menemukan beberapa situs megalitikum dan mampu merawatnya hingga kini, hanya seorang diri.

Sebuah pelajaran yang sangat berharga disini, jangan pernah menganggap remeh seseorang, karena dia mampu merubah dunia!