Showing posts with label dinding. Show all posts
Showing posts with label dinding. Show all posts

Tuesday, October 27, 2015

Taraje Beusi (a.k.a Via Ferrata) di Badega Gunung Parang

Tidak perlu bisa memanjat tebing untuk menikmati rute Via Ferrata (a.k.a TARAJE BEUSI)
Seperti yang sudah direncanakan di awal pembangungan Badega Gunung Parang di akhir tahun 2013, sebuah lintasan Via Ferrata (Tangga Besi) yang berada di dinding Utara Gunung Parang (Tower 3) selesai di bangun oleh tim panjat tebing Badega Gunung Parang.

Pekerjaan pemasangan tangga besi yang sepenuhnya dilakukan oleh anak-anak muda kampung ini, sangat mencengangkan dan patut dibanggakan, karena dalam waktu singkat mereka berhasil membuka jalur baru, sekaligus memasang tangga besi secara bersamaan.

Dibangun dengan penuh kearifan karena rute ini adalah rute turun temurun para pencari kayu bakar jaman dahulu untuk mencapai puncak Gunung Parang (Tower 3), sehingga bagi anak-anak muda yang terlibat dalam pekerjaa ini, rute Via Ferrata ini sudah tidak asing lagi.



As planned at the beginning of the construction of Badega Mount Parang at the end of 2013, a Via Ferrata (Iron Stairs) in the north wall of Mount Parang (Tower 3) has been built completed by a Badega Gunung Parang's climbing team.

Installation work iron ladder fully carried out by young people of this village, is surprising and proud, because in a short time they managed to open a new climbing route, while simultaneously installing iron staircase.


Built with great wisdom because routes are hereditary firewood seekers antiquity to reach the summit of Mount Parang (Tower 3), so that the young people involved in this work, Via Ferrata route is already familiar.


TARAJE BEUSI (a,k.a VIA FERRATA) di Badega Gunung Parang
Jalur baru ini diberi nama sesuai dengan nama lokal dari bahasa sunda yaitu TARAJE BEUSI (taraje = tangga / beusi = besi)

Cukup sediakan Rp. 150,000 / orang (Termasuk Alat dan Guide), anda sudah bisa menikmati petualangan seru TARAJE BEUSI (a.k.a VIA FERRATA) di dinding Gunung Parang, tanpa harus bisa memanjat tebing.

Nah tunggu apalagi, segera datang dan nikmati petualangan Via Ferrata rasa lokal di Badega Gunung Parang !

Pemesanan layanan : Hotline Badega Gunung Parang +62 8787 470 8230



The new route is named according to the local name of Sundanese language, namely TARAJE BEUSI (taraje = ladder / beusi = iron)

The cost is Rp. 150,000 / person (Including Gear and Guide), you can enjoy exciting adventures Taraje BEUSI (aka VIA Ferrata) in the wall of Mount Parang, without having to climb.

Well what are you waiting, soon to come and enjoy the local flavor adventure Via Ferrata in Badega Gunung Parang!


Booking services: Badega Gunung Parang Hotline +62 8787 470 8230


Petualangan rasa lokal di Badega Gunung Parang

Friday, October 23, 2015

Olahraga Ekstrim Dalam Sebuah Film dengan Citarasa Indonesia

Sang Director, Fikri Hidayat, mengarahkan para pemain di ketinggian 350 meter di dinding Tower 2 Gunung Parang
(Credit Photo : Kompas.Com / Wahyu P)

Cukup banyak film yang bercerita tentang olah raga ekstrim seperti panjat tebing, mendaki gunung, meniti tali, lompat bebas,  tapi itu di luar negeri, tidak di dalam negeri.
Dan cukup banyak iklan yang berlatar belakang olahraga ekstrim yang dibuat oleh para sutradara, tapi itu sutradara luar negeri, bukan sutradara asli Indonesia.

Quite a lot of films that tells about extreme sports like rock climbing, mountaineering, slackline, base jump, free fall, but it is abroad, not in Indonesia.
And quite a lot of advertising background extreme sports made by the director, but the international director, not native Indonesia director.

Berangkat dari ide-ide liar dari seorang Fikri Hidayat, salah seorang editor dari Kompas.Com yang sebelumnya telah membuat sebuah film pendek 'Manusia Cecak dari Gunung Parang', sebuah film dokumenter yang bercerita tentang pemajatan "Free Solo" yang pertama di Gunung Parang, terutama di Asia, oleh seorang anak kampung Cihuni, Miftah.


Departing from wild ideas of a Fikri Hidayat, one of the editors of Kompas.Com who has previously made a short film 'Geckos Man from Mount Parang', a documentary that tells the story of the first "Free Solo" Climbing on Mount Parang, particularly in Asia, by a Cihuni village boy, Miftah.

Sebuah babak baru film petualangan ekstrim di Indonesia

Film ini menjadi sebuah  babak baru film dokumenter tentang dunia panjat tebing di Indonesia, karena pertama kalinya pemanjatan bebas tanpa tali dan pengaman dilakukan di Indonesia, khususnya di Gunung Parang.
Dan terlebih lagi oleh seorang anak kampung Cihuni, yang besar dan hidup di kaki Gunung Parang, dan terbilang baru mengenal dunia panjat tebing profesional.
Gebrakan film dokumenter 'manusia cecak' membawa dunia panjat tebing di Indonesia ke tingkat yang lebih ekstrim lagi, dan membuat sebuah rekor baru di Indonesia dan Asia tentunya.

The film became a new chapter documentary about the world of rock climbing in Indonesia, for the first time solo free climbing in Indonesia, particularly in the Mount Parang.
And moreover by a Cihuni village boy, large and live at the foot of Mount Parang, and relatively new to the world of professional rock climbing.

The breakthrough documentary 'Geckos Man from Mount Parang' brings the world of rock climbing in Indonesia to a more extreme level, and create a new record in Indonesia and of course Asia.

Dari sini, Fikri Hidayat, melanjutkan proyeknya kembali dengan membuat sebuah film petualangan ekstrim di Gunung Parang, sekali lagi dengan Miftah yang disandingkan dengan Abiyoga, seorang talent yang tidak mengenal bahkan memanjat tebing sama sekali, dengan latar belakang yang bercerita tentang petualangan panjat tebing di dinding Gunung Parang.

From here, Fikri Hidayat, continuing the project back by creating an extreme adventure film on Mount Parang, again with Miftah coupled with Abiyoga, a talent who do not know even a rock-climbing at all, with a background that tells about the adventures climbing wall Mount Parang.

Suplai 50 Liter Air dalam 24 jam

Ide cerita yang gila, dan persiapan yang singkat, tidak menyurutkan niat untuk mengejar hasil yang maksimal dengan tenggat produksi yang ketat. 
Tim Kompas.Com dan Badega Gunung Parang akhirnya dapat menyelesaikan proyek film ini dengan  nilai faktor keselamatan yang memuaskan.

The idea of a crazy story, and the preparation is short, do not dampen the intention to pursue the maximum results with rigorous production deadlines.

Kompas.Com team and Badega Gunung Parang finally able to complete the film project with a satisfactory safety factor value.

Suplai logistik yang harus diselesaikan dalam tempo 24 jam 

Suplai logistik, terutama air di musim kemarau yang melanda di Gunung Parang, juga merupakan sebuah hambatan yang perlu diperhitungkan dan memerlukan sebuah strategi tersendiri. Karena jangan sampai semua tim yang sedang melakukan syuting di atas ketinggian dinding Gunung Parang menderita dehidrasi.
Untuk itulah suplai air sebanyak hampir 50 liter per hari diperlukan tenaga ekstra yang membuat tim pendukung harus bolak-balik naik turun dari Base Camp ke Pitch 6 (kurang lebih setinggi 350 meter) dalam kurun waktu 24 jam, yang membuat pergerakan tim sedikit terhambat, namun pada akhirnya bisa terselesaikan juga.

Logistics supply, especially in the dry season which struck at Mount Parang, is also an obstacle that needs to be taken into account and requires a separate strategy. Because not to all the teams who are shooting above the height of the walls of Mount Parang suffering from dehydration.

For this reason water supply as much as nearly 50 liters per day needed extra power makes the support team had to go back and forth up and down from Base Camp to Pitch 6 (approximately as high as 350 meters) within a period of 24 hours, which makes the movement of the team slightly delayed, but eventually be resolved as well.

Jatuh 10 Meter di ketinggian 450 meter !

Bagi pemanjat tebing, jatuh dari tebing adalah hal biasa jika melalui jalur-jalur sulit.
Tapi mungkin ceritanya akan lain, jika adegan jatuh diperankan oleh talent yang tidak pernah memanjat tebing sama sekali, bahkan jatuhnya tidak tanggung-tanggung, di ketinggian 450 meter di Tower 2 Gunung Parang sepanjang 10 meter.

For rock climbers, fell from a cliff is common when through difficult paths.

But perhaps the story would have been different, if the scene crashed played by talent that never climb at all, even fall no half-hearted, at an altitude of 450 meters in the Mount Parang Tower 2 along 10 meters.

Adegan jatuh di ketinggian 450 meter, cukup bikin jantung talent hampir copot

Disinilah tim Badega Gunung Parang harus ekstra hati-hati, dan menyiapkan semua pengaman dengan sempurna, tidak ada boleh ada kesalahan, dan semua harus di back up, dan di cek ulang tanpa terkecuali.

This is where the team Badega Gun Parang be extra cautious, and prepared all with perfect safety, there should be no errors, and all must be backed up, and cross checked without exception.

Bersyukur, adegan jatuh yang dilakukan sebanyak 2 kali, berhasil dilakukan oleh Abiyoga dengan sempurna, dan membuatnya cukup lama untuk normal kembali.
Terbayang jantung hampir copot ketika harus jatuh sejauh 10 meter diketinggian 450 meter, penyiksaan talent yang sempurna !

Grateful, fall scenes performed 2 times, successfully carried out by Abiyoga perfectly, and make it long enough to get back to normal.

Imagined heart almost dislodged when it should fall as far as 10 meters altitude of 450 meters, torture talent perfect!

Yuk, kita tunggu dan saksikan film petualangan ekstrim dengan citarasa lokal....

Let's wait and see extreme adventure movie with a local flavor ....


Tim Kompas.Com berfoto bersama Badega Gunung Parang

Tuesday, July 1, 2014

Informasi Untuk Para Pemanjat Tebing di Gunung Parang

Disarankan untuk para pemanjat tebing yang ingin memanjat Gunung Parang baik di Tower 1, 2, dan 3, ataupun ingin mendaki Gunung Parang dari jalur trekking untuk mengikuti beberapa petunjuk dibawah ini untuk kenyamanan dan keselamatan selama beraktifitas di Gunung Parang;


It is recommended for all  climbers who want to climb Mount Parang both in Tower 1, 2, and 3, or want to climb Mount Parang from trekking path to follow some of the instructions below for the comfort and safety during the activity at Mount Parang;


Climbing Route on Tower 2 Mt. Parang


# Daftarkan diri anda atau team anda di Badega Gunung Parang terlebih dahulu, agar jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pihak Badega Gunung Parang dapat segera berkordinasi dengan pihak terkait baik berupa evakuasi, penyelamatan, maupun pengamanan.

# Register yourself or your team in Badega Gunung Parang beforehand, so if there is something undesirable side, Badega Gunung Parang can immediately coordinate with related parties in the form of evacuation, rescue, and security.

# Hormatilah adat istiadat setempat, jagalah sikap serta patuhi nasehat para orang tua disini selama berada di kawasan Gunung Parang, karena Gunung Parang bukan hanya kita yang mendiami, tetapi semua makhluk hidup.

# Respect local customs, keep your attitude and obey the advice of the parents here while in the area of Mount Parang, because Mount Parang not just us who inhabit, but all living things.

# Berilah waktu pemanjat / team pemanjat yang lebih awal memanjat di jalur panjat yang yang sama yang akan dipanjat oleh anda / team anda, untuk menyelesaikan pemanjatan sampai selesai, dan barulah anda / team anda memanjat rute tersebut. 
Hal ini untuk mencegah terlalu ramainya jalur pemanjatan, serta berlebihnya beban pada masing-masing anchor (tambatan) di masing-masing pitch (teras).

# Give an earlier climber / team climbing on the same track that will be climbed by you / your team, to finish the climb, and then you / your team can climbing the route.

This is to prevent too crowded climbing route, as well as the excessive load on each anchor on each pitch (terrace).

# Jangan mengambil pengaman yang ditinggal di jalur pemanjatan seperti Hanger dan Karabiner yang bukan milik anda, karena bisa jadi hal itu disengaja oleh pemanjat sebelumnya untuk pengaman pemanjat berikutnya.

# Do not take all gears / tools left in the climbing route like Hanger and Carrabinner that does not belong to you, because it could be intentional by previous climbers for next climbers.

# Jangan menambah bor / memasang hanger pada jalur panjat yang sudah ada, kecuali menggantinya karena rusak, atau karena faktor keselamatan.
Hal ini bertujuan untuk menjaga dinding Gunung Parang dari kerusakan karena bor yang berlebihan, serta faktor keselamatan dikarenakan banyak batang-batang ramset yang tidak tercabut karenanya.

# Do not add drill / installing hangers on existing climbing route, except to replace it because it is damaged, or because of the safety factor.

It aims to keep the walls of Mount Parang from damage due to excessive drill, as well as the safety factor because many rods Ramset are not deprived thereby.

# Bawalah peralatan yang memadai dan memenuhi syarat untuk memanjat, jangan menggunakan peralatan yang sudah rusak, karena akan membahayakan nyawa anda.

# Bring adequate equipment and qualified to climb, do not use equipment that is damaged, because it would endanger your life.

# Bawalah logistik (makanan/minuman/jaket/ kaos/celana) yang cukup jika anda dan team memutuskan menginap di atas (flying camp) dinding Gunung Parang, jangan paksakan diri anda untuk memanjat jika sudah lelah.

# Bring logistics (meal/drink/jacket/shirt/pant)  if you and the team decided to stay at the top (the flying camp) wall Mount Parang, do not force yourself to climb if it is tired.

# Tetap fokus dan selamat sampai kembali ke rumah.

# Stay focused and safely return home.

PERINGATAN: Pemanjatan Tebing dan Pendakian Gunung adalah kegiatan / olahraga yang berbahaya yang bisa menyebabkan kematian, dan setiap pendaki gunung / pemanjat tebing dianggap mengerti dan bertanggun jawab terhadap semua resiko yang mungkin terjadi dalam kegiatan / olaraga ini.
 BADEGA GUNUNG PARANG tidak bertanggung jawab atas segala resiko yang terjadi dalam bentuk apapun terhadap aktifitas yang dilakukan para pendaki / pemanjat tebing di Gunung Parang.