Tuesday, September 22, 2015

Gunung Parang selintas pandang

Gunung Parang (Mount Parang)
Gunung Parang yang terletak di wilayah kabupaten Purwakarta, adalah gugusan pegunungan batuan andesit purba yang terjadi dari sebuah  intrusi, yaitu magma (bahan gunung api) yang menerobos menuju ke permukaan namun keburu membeku sebelum muncul ke permukaan untuk menjadi gunung api.  Sejalan dengan waktu, tanah di atas intrusi ini tererosi dan akhirnya memunculkan gunung ini.
Sejauh ini masih belum ada penelitian resmi ataupun tidak resmi yang mendalam dari pihak-pihak terkait yang berhubungan dengan geologi Gunung Parang ini.

Gunung batu ini sendiri memiliki ketinggian total 963 meter dari permukaan laut, dengan diapit oleh dua bendungan terbesar di Indonesia yaitu Jatiluhur dan Cirata.
Secara administrasi Gunung Parang terletak di Kecamatan Tegalwaru dan menjadi perbatasan antara dua desa yaitu Desa Sukamulya dan Desa Pasanggrahan.

Mitos dan Legenda

Gunung Parang juga dikenal oleh masyarakat Karawang dan sekitarnya adalah Gunung Barang, entah dari mana mereka memperoleh julukan ini.
Di runut dari cerita yang melegenda, bahwa jika ingin memperoleh kekayaan dan kemakmuran, datanglah ke Gunung Parang (aka. Gunung Barang).

Dan sampai saat inipun dibalik keindahan Gunung Parang, masih tersimpan beberapa mitos dan legenda yang beredar di Gunung Parang.

Ada beberapa legenda yang beredar di masyarakat antara lain; Nyai Ronggeng, Ki Pat Tinggi, Ki Jonggrang dan Mbah Jambrong, dan beberapa lainnya, dan masing-masing legenda tersebut saling terkait dan akhirnya berujung pada Kerajaan Padjajaran.

Dan menjadi hal yang wajar jika masyarakat lingkar Gunung Parang masih mempercayai hal-hal di luar nalar yang terjadi seperti teluh (santet), pesugihan, dan lain sebagainya dalam dunia mistis di dunia yang serba modern seperti saat ini.

Masih diperlukan pendalaman sejarah dan budaya yang ada di lingkar Gunung Parang, karena biasanya di balik sebuah legenda, ada sebuah kearifan adi luhung dari nenek moyang sebelumnya.

Gunung Parang (Mount Parang) - Salah satu lokasi Badega
 Sejarah yang hilang

Dari segi budaya, masyarakat yang tinggal di lingkar gunung Parang didominasi oleh kultur budaya Sunda. Sejalan dengan perkembangan zaman yang ditandai oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, masyarakat lingkar Gunung Parang banyak dipengaruhi oleh budaya dari luar.
Namun demikian, budaya masyarakat pada dasarnya tetap bernuansa budaya Sunda dan nilai-nilai agama, terutama agama Islam.

Dirunut dari asal usul nenek moyang masyarakat lingkar Gunung Parang kebanyakan berasal dari wilayah Sukaraja, Kabupaten Tasikmalaya. Namun hal ini masih perlu penelitian lebih jauh tentang asal usul masyarakat yang pertama kali mendiami lingkar gunung ini.

Dari sisi budaya, banyak masyarakat terutama generasi muda yang sudah tidak mengenal adat dan budaya sunda yang menjadi dasar kehidupan mereka saat ini. Dan ini bisa dimaklumi, karena kakek nenek bahkan orangtua mereka tidak menurunkan atau mengajarkan adat dan budaya secara langsung kepada mereka.

Dan dari sisi bahasa pun, masing-masing kampung di lingkar Gunung Parang memiliki aksen bahasa sunda yang berbeda satu sama lain, meski hanya terpisah 2-3 km jaraknya.
Begitu pula dengan karakter dan kehidupan di masing-masing kampung, masing-masing memiliki keunikan dan menambah kekayaan budaya di lingkar Gunung Parang.

Jalan Setapak menuju Bale Fatimah di Badega Gunung Parang

Ketika para artis "Air Mata Fatimah" bertemu dengan Bupati Purwakarta

Dwika Andika, Bapak H. Dedi Mulyadi, Anindika Widya berpose bersama setelah acara ramah tamah di Pendopo Kabupaten Purwakarta
Siang yang panas di penghujung musim kemarau 17 September 2015, tidak menyurutkan niat kami bersama para kru dan artis film “Air Mata Fatimah” bertemu dengan Bapak H. Dedi Mulyadi SH, selaku Bupati Purwakarta di Pendopo Kabupaten.

Bersama kami ada Dwika Andika, Anindika Widya, dan sutradara Oka Mahadi beserta kru dari PH Cosmics, sekaligus menyerahkan undangan pemutaran perdana film Air Mata Fatimah dan perkembangan Badega Gunung Parang sejauh ini.

Bupati Purwakarta, Bp. H Dedi Mulyadi SH, menyampaikan salam pembukaan untuk pemutaran film "Air Mata Fatimah"

Secara tidak langsung Bapak H. Dedi Mulyadi SH, menyampaikan pesan dan kesan tentang film Air Mata Fatimah yang telah mengambil lokasi syuting di Badega Gunung Parang, yang secara tidak langsung telah mengangkat salah satu keindahan alam di Purwakarta.

Dan beliau juga menyampaikan visi dan misinya ke depan tentang pengembangan pariwisata di Purwakarta dan lingkar Gunung Parang khususnya. 
Diharapkan melalui film Air Mata Fatimah, kabupaten Purwakarta semakin dikenal lagi di Indonesia.

Badega Gunung Parang bersama para artis dan kru "Air Mata Fatimah"
Tidak hanya berhenti disini, PH Cosmic yang diwakili oleh sutradara Oka Mahadi menyampaikan rencananya untuk membuat satu film lagi yang akan mengambil tempat masih di lingkar Gunung Parang dan sekitarnya, dengan mengambil cerita yang bertemakan religi dan pendidikan.

Pada akhirnya, semua komponen bersinergi di Badega Gunung Parang, mulai dari budayawan, politikus, dan petualang, serta orang kampung untuk membawa nama Indonesia melalui sebuah film.

Bukankah ini sebuah cerita yang indah?


Tuesday, September 15, 2015

Film Air Mata Fatimah siap tayang 1 Oktober 2015

Sebuah film drama Indonesia dengan sentuhan religi, "Air Mata Fatimah" akan tayang tanggal 1 Oktober 2015 di seluruh bioskop di Indonesia.

Film yang dibintangi diantaranya oleh Dwi Andhika, yang kali ini berperan sebagai Ichsanudin, pacar Fatimah.
Karakter Fatimah diperankan oleh Syarifah Reihan, bintang baru yang hadir di jagad perfilm Indonesia.
Serta didukung oleh artis-artis senior dan pendatang baru antara lain Syarifah Reihan Afridila - Anindika Widya - Dwi Andhika - Reza Pahlevi - Dwi Sartika - Ali Kribo - Jian Batari - Oka Sugawa - Vikri Rasta - Violeta Mongi - Jajang C. Noer - Yafi Tesa Zahara

Apa hubungannya dengan Badega Gunung Parang?

Film yang mengambil lokasi sepenuhnya di Badega Gunung Parang, yang menggambarkan situasi kehidupan jaman dahulu kehidupan masyarakat desa di kaki sebuah Gunung.

Syuting film ini sendiri berlangsung selama hampir 20 hari di Badega Gunung Parang, dengan membawa seluruh perlengkapan, kru dan artis ke lokasi.
Bersama kami dengan seluruh kru dan artis film,  semua berjibaku untuk menuntaskan film ini tanpa memikirkan kondisi alam yang sangat buruk, karena berada di penghujung musim hujan.

Awalnya tim produksi dari COSMIC Production House melihat potensi keindahan alam yang ada di Badega Gunung Parang dan beberapa kisah perjalanan Badega Gunung Parang yang tidak jauh berbeda dengan plot utama cerita di film Air Mata Fatimah, tentang keikhlasan dan kesabaran.

Inilah kesabaran yang berujung manis, Film "Air Mata Fatimah" kini siap tayang dan dapat dinikmati oleh seluruh dunia.

Selamat menonton !


Air Mata Fatimah @2015