Showing posts with label kampung wisata. Show all posts
Showing posts with label kampung wisata. Show all posts

Monday, September 1, 2014

Sebuah pelajaran dan pengalaman dari tamu mancanegara

Remaja Kampung Cihuni setelah berdiskusi dengan Ms. Anthene Grant dari US
Siapa sangka tamu kita kali ini adalah seorang General Manager dari sebuah resort terkenal di kepulauan Seribu, Mrs. Anthene Grant berkebangsaan Amerika Serikat.
Bersama beliau beberapa orang dari beragam negara juga ikut dalam rombongan dari "Ayo Ke Desa" yang dikomandani oleh Mas Anggun. 

Rombongan kecil ini sengaja datang untuk menghabisan waktu akhir pekan di Badega Gunung Parang yang ada di Kampung Cihuni, Desa Sukamulya, Purwakarta.
Mulai dari jalan-jalan ke desa sampai dengan mendaki Gunung Parang yang eksotis.

Malamnya beberapa anak muda dari Kampung Cihuni bersama para Badega terlibat dalam diskusi kecil dan tukar pengalaman dengan tamu-tamu kami.
Topik yang dibahaspun beragam dari isu yang sederhana sampai dengan isu berat lainnya, tetapi yang menarik adalah pengalaman Mrs. Anthene Grant menangani sampah di pulau tempat resortnya berada, serta kreatifitas warga mengelola aktifitas penunjang untuk para tamu.

Dengan memberdayakan masyarakat sekitar melalui pendidikan yang diberikan kepada anak-anak usia dini, membuat mereka sadar tentang keberadaan sampah dan bagaimana mengelola bahkan mencegah polusi pencemaran disekitar pantai-pantai disana.
Di usia dini mereka telah sadar akan kebersihan dan lingkungan hidup, sebuah pendidikan yang sangat berharga untuk Badega Gunung Parang.

Disini kami berjibaku bagaimana menyadarkan warga tentang kebersihan dan menjaga lingkungan dari sampah.
Dan sejauh ini hasilnya memang belum sepenuhnya berhasil, karena untuk menumbuhkan kesadaran tentang kebersihan adalah sebagian daripada iman, adalah masih sulit dan bahkan sama sulitnya menumbuhkan pohon Jengkol di gurun sahara.

Bagaimanapun usaha kami dari Badega Gunung Parang tidak pernah berhenti disini, mengingat yang membangun dan mengelola wisata ini sepenuhnya adalah usaha komunitas warga, bukan para investor ataupun donatur.
Sehingga kami sadar bahwa berhasil atau tidaknya Badega Gunung Parang adalah tanggung jawab kami juga, dan sejengkalpun kami tidak menyerah begitu saja.

Pelajaran malam ini dari tamu-tamu kita tentang sampah dan kreatifitas sangat berharga sekali, dan menyadarkan kami untuk berbenah diri lebih baik lagi untuk masa depan.

Diskusi yang menyenangkan malam ini dengan ditemani secangkir kopi kayu manis yang hangat!

Rombongan "Ayo Ke Desa" melihat mata air Anaga





Wednesday, April 23, 2014

Sebuah perjalanan tanpa akhir

Jika berbicara tentang Badega Gunung Parang, maka kita harus berbicara sebuah perjalanan tanpa akhir.
Karena disini kami terus bekerja untuk pengembangan sumber daya manusia yang kelak melanjutkan perjuangan dan cita-cita perintisan Badega Gunung Parang.

Disini, kami tidak hanya membuat sebuah wisata yang sederhana. Tetapi mungkin paling komplek sedunia, bagaimana tidak, disini kami harus memikirkan pengembangan sumber daya manusia sampai dengan pengembangan kawasan wisata Gunung Parang. Dengan harapan suatu saat nanti disini akan menjadi kawasan wisata yang bermanfaat bagi warga sekitar, bukan oleh para investor.
Karena sudah banyak lokasi wisata yang hancur karena tidak terkelola dengan baik dan hancur karena ketidakmampuan masyarakat mengelolanya dan akhirnya tergerus oleh investasi yang membabi buta tanpa ada penataan.

Masalah ini sebenarnya sudah dipikirkan sejak awal pembuatan 'master plan' untuk Badega Gunung Parang, dari segi sosio budaya, lingkungan, dan dampaknya. Karena bagaimanapun hasil akhir dari wisata ini diharapkan akan kembali kepada masyarakat sekeliling Gunung Parang.

Dengan niat tulus dan ikhlas, kita memulai perjalanan tanpa akhir di Badega Gunung Parang.



Thursday, December 19, 2013

Pertama kali Pesta Rakyat di Gunung Parang


Bapak Bupati Purwakarta, H Dedi Mulyadi SH mengunjungi tempat wisata Badega Gunung Parang
Para tamu menikmati suguhan khas kampung Cihuni, Nasi Liwet 
Bapak H Dedi Mulyadi SH, Bupati Purwakarta, menandatangani kelotok kerbau sebagai maskot BADEGA GUNUNG PARANG

Kelotok kerbau yang telah ditandatangani dikalungkan kepada Kang Wawan Lukman Hidayat, sebagai Ketua BADEGA GUNUNG PARANG

Karinding Bambu yang dimainkan oleh KASUNDA, menambah gemuruhnya suasana di kaki gunung Parang

Foto Bersama Bupati Purwakarta, Bp. H Dedi Mulyadi SH, sekarang dan selamanya semua melebur menjadi Badega Gunung parang


KASUNDA on stage bersama kerbau di latar belakang

Kursus singkat Karinding bersama KASUNDA

Masyarakat Kampung Cihuni berpesta

Bapak Camat Tegalwaru, bergembira bersama

Generasi penerus Kampung Cihuni

Kelak mereka yang akan mewarisi BADEGA GUNUNG PARANG

Pertama kali dalam sejarah Gunung Parang, terjadi pesta Rakyat yang diadakan di Kampung Cihuni.

Pesta Rakyat yang diadakan oleh Badega Gunung Parang adalah awal dari revitaliasi budaya Sunda yang ada di wilayah Gunung Parang.
Bekerja sama dengan komunitas karinding sunda (KASUNDA) dari Rancaekek, Bandung, pimpinan Asep Hendra, secara sporadis memaikan karinding di tengah keheningan Gunung Parang yang megah, dan membawa para penonton ke imajinasi purba di kala Gunung Parang Parang masih dibawah kerajaan Pajajaran.

Kelak pesta ini akan diadakan setahun sekali dan merupakan event tahunan yang akan digelar di kaki Gunung Parang.

Cek foto lengkapnya di http://facebook.com/kampungcihuni



Tuesday, December 3, 2013

Wilujeng Sumping di Kampung Cihuni


Saatnya kami menyambut anda ditengah kehangatan warga Kampung Cihuni dan alamnya...

Bale Ngaso di Badega Gunung Parang

Bale Ngaso di Badega Gunung Parang
Tersedia Bale Ngaso sebanyak 5 unit untuk kapasitas 5-6 orang di Badega Gunung Parang, bagi mereka yang ingin merasakan sensasi menginap di alam bebas di kaki Dinding Gunung Parang.

Disini anda bisa berinteraksi secara langsung dengan alam diantaranya melihat elang jawa beterbangan di atas, bermain dengan kerbau, belajar panjat tebing, atau mungkin mandi matahari. 

Percayalah, disini waktu akan serasa berhenti.

Saturday, November 9, 2013

Kembalilah ke Kampung


Di Kampung Cihuni, kesederhanaan adalah keunikan kami. Disinilah kami hidup apa adanya ditengah kemegahan Gunung Parang, dan kerasnya alam jika musim kemarau tiba.
Belum lagi dengan serbuan deras arus budaya kota kepada anak-anak kami, yang mungkin sudah tidak bisa dibendung lagi karena pengaruh teknologi dan jaman.

Di satu sisi kami harus mempertahankan budaya dan adat sunda kami, tetapi di sisi lain kami harus bertarung idealisme dan budaya kota dengan anak-anak kami.
Sungguh ironis, jika kampung kami suatu ketika harus kehilangan identitasnya di masa depan.

Dari sinilah, kami bergerak dan berhimpun untuk menyatukan kata dengan para warga penggagas kampung wisata untuk memulai sesuatu yang memiliki makna dan tujuan demi masa depan anak-anak kami nantinya.

Tanpa harus dilihat kekurangan dan kelebihannya, kami hanya berniat untuk melestarikan adat dan budaya serta alam di kaki Gunung Parang, yang kelak akan kami wariskan kepada anak cucu kami.

Kalau bukan sekarang, kapan kami harus kembali pulang ke Kampung!






Buah KECAPI yang selalu ada di Kampung Cihuni




Sudah jarang kita temui buah KECAPI (
Sandoricum koetjape (Burm.f.) Merr.) di beberapa pasar tradisional ataupun modern sekalipun. Kalaupun ada, buah ini jarang dilirik oleh pembeli, entah mengapa?
Jadi jangan heran, kalau buah KECAPI sudah dianggap buah langka oleh sebagaian orang di kota-kota besar.

Padahal dari pohon dan buahnya memiliki beragam khasiat penyembuhan, dari mulai deman, perut kembung, penguat tubuh wanita setelah melahirkan, dan  obat cacingan.

Jadi jangan remehkan buah KECAPI, karena dari alam sebenarnya semua tersedia untuk menyembuhkan beragam penyakit di tubuh manusia.

Jika berjalan-jalan di Kampung Cihuni, jangan lupakan untuk mencicipi buah KECAPI, dan jika musimnya tiba, jangan ragu-ragu untuk membawanya pulang, kalau perlu sekarung sekalipun.




Sunday, November 3, 2013

Lupakan menjadi orang KOTA, mari menjadi orang KAMPUNG !


Jika anda pergi ke Purwakarta, sempatkan untuk berkunjung ke Kampung Cihuni, hanya 15 km dari pusat kota.

Anda akan diajak untuk melupakan sejenak kepenatan ritme kehidupan di kota besar, dan waktupun berhenti berputar sejenak disini.

Lupakan basa basi orang kota, mari kita menjadi orang kampung sejenak dan belajarlah ketulusan dan kearifan di Kampung Cihuni.



Friday, November 1, 2013

Kearifan budaya kampung


Di kampung Cihuni, yang hanya berjarak 3 jam perjalanan dari Jakarta, ternyata kita dapat menjumpai kearifan yang sulit ditemui di kota besar, atau bahkan di kota kecil sekalipun. Disini kita dapat belajar bagaimana menghormati para lelulur.

Salah satu contoh, adalah Kang Soun, dia adalah penduduk asli disini dan kemudian mengadu peruntungan menjadi mandor proyek yang sukses di Jakarta, dan entah kenapa,kemudian beliau kembali lagi ke kampung dan mengawali lagi kehidupannya dengan merawat 'petilasan-petilasan' para leluhur yang banyak bertebaran di kaki Gunung Parang hingga kini.

Awalnya, dia di cap oleh warga sebagai 'orang gila' karena merawat batu-batu berserakan yang tidak jelas dan hanya buang-buang waktu. Tapi lambat laun, wargapun menaruh hormat kepadanya karena dia menemukan beberapa situs megalitikum dan mampu merawatnya hingga kini, hanya seorang diri.

Sebuah pelajaran yang sangat berharga disini, jangan pernah menganggap remeh seseorang, karena dia mampu merubah dunia!

Wednesday, October 30, 2013

Wilujeng Sumping di Kampung Cihuni


Saatnya kami menyambut anda ditengah kehangatan warga Kampung Cihuni dan alamnya...

Kirai yang membawa berkah


Ibu Entin yang mungkin sepanjang hidupnya membuat Atap Kirai, produk alami untuk atap yang terbuat dari daun pohon kirai yang tumbuh di pinggir sungai, adalah sebuah contoh kearifan lokal warga kami.
Tanpa mengeluh tentang kondisi ekonomi, beliau bertahan dari beragam kondisi yang hadir sepanjang masa.

Mari belajar dari Ibu Entin....

Anyaman bambu

Kami menyadari bahwa di Kampung Cihuni, setiap orang dan setiap jiwa berjuang berkelompok atau masing-masing demi menyambung hidup. Setiap orang berhak untuk itu!

Tapi kami juga sadar bahwa jika kami bersatu, maka kami pun dapat maju untuk menjadi lebih baik.
Saat inilah kami ingin bangkit dari tidur kami yang panjang, dan merengkuh semua kemampuan dan potensi yang ada untuk menjadi

Disini kami harus belajar lebih arif dan bijaksana menyikapinya, seperti kesabaran kami mengayam bambu-bambu menjadi sebuah produk yang bermanfaat untuk orang lain.

Beragam produk dapat kami hasilkan disini dari hanya sebuah bambu, dari mulai kipas sampai rumah bambu sekalipun.

Silahkan berkunjung kemari, disinpun anda dapat belajar menjadi arif dan bijaksana...


Tuesday, October 29, 2013

Koordinat Peta dan Arah Menuju Kampung Cihuni



Dari arah Jakarta exit tol CIGANEA, kemudian belok kanan ke arah PLERED, dan selanjutnya dari PLERED menuju arah GUNUNG PARANG sekitar 10km, dan berikutnya ke arah kampung CIHUNI, bisa lewat 2 arah yang berbeda: (1) Lewat pertigaan SIMPANG belok kanan - kondisi jalan agak bergelombang (2) Lewat pertigaan CIAKAR belok kanan - kondisi jalan bagus namun agak sedikit jauh, bisa dilihat di peta ini

Monday, October 28, 2013

Berawal dari sebuah mimpi

Semua berawal dari sebuah mimpi kami yang mungkin tidak akan pernah terwujud jika kami hanya duduk-duduk saja di warung kopi teman kami Pak Umin.
Sudah terlalu banyak cerita dan janji yang diberikan kepada kami, namun tidak ada satupun yang terwujud.

Dan kamipun hampir putus asa, dari mulai Kang Yunus, yang mantan preman dan tukang bikin ribut di kampung, Kang Wawan yang calon lurah gagal saat pilkada kemarin, Kang Suher yang supir angkot, serta Kang Umin yang mantan RK dan menjadi tetua disini.
Kami yang sehari-hari hidup di Kampung Cihuni, merasa selama ini hanya sebagai penonton, dan saatnya kami harus bangkit untuk memperbaiki kehidupan Kampung Cihuni menjadi lebih baik, karena kami sadar jika kami tua kelak di kampung inilah kami menghabiskan sisa hidup kami.