Jalur baru di Tower 3 Gunung Parang telah dibuat oleh Miftah bersama-sama para pemanjat kampung Cihuni. Jalur yang dibuat ini menggabungkan antara jalur "sport" dan "trad", sehingga memberikan pilihan yang menarik bagi para pemanjat nantinya.
Jalur yang diberi nama "Cihuni Sakti / Mbah Jambrong" memiliki tingkat kesulitan yang bervariasi dari 5.9 - 5.11 sampai di Pitch 5, selanjutnya meningkat sampai 5.12 - 5.14,. tergantung jalur yang dipilih di atas
Yang lebih menarik lagi, di jalur ini para pemanjat bisa beristirahat atau bermalam di ketinggian 200 meter di sebuah rekahan batu yang bisa menampung 10 orang. Ruang yang cukup besar ini dulunya adalah sarang burung elang dan beberapa burung lainnya, namun saat ditemukan ruangan ini sudah lama ditinggalkan. Asumsi kami banyak predator dari telur-telur elang yang dengan mudah mencapai tempat ini seperti monyet atau lutung jawa, sehingga elang dan burung-burung lainnya mencari tempat yang lebih aman.
Di Pitch 5, terdapat sebuah teras besar yang menjadi sebuah gerbang awal dari jalur-jalur "gila" yang akan dibuat oleh Miftah dan kawan-kawan, dan kita menyebut teras ini sebagai 'Flying Camp'. Di teras ini pula, kita bisa menginap cukup nyaman karena teras ini mampu menampung sekitar 10 orang pula, dan pemandangan di atas sini sangat menarik karena bisa melihat bendungan Jatiluhur dan Cirata dari ketinggian, serta sunrise yang mengagumkan jika cuaca cerah.
Dari 'Flying Camp' kita bisa memilih rute-rute panjat lainnya diatas sini.
Mifta (Emip) solo climbing at Mount Parang, Purwakarta
Sebuah prestasi dan rekor baru telah dibuat oleh seorang anak kampung Cihuni, Gunung Parang, Miftah, yang sehari-harinya bekerja sebagai supir truk angkut, melakukan solo climbing di rute “Mbah Jambrong”, Grade 5.10, Tower 3 Gunung Parang.
Rekor baru yang diciptakan tanggal 2 Januari 2014 ini, menunjukkan bahwa dunia panjat tebing Indonesia memasuki tingkat yang lebih ekstrim lagi, sejak panjat tebing dikenalkan pertama kali di Indonesia oleh Harry Suliztiarso dan kawan-kawan dari Skygers.
Solo Climbing adalah panjat tebing tanpa menggunakan alat pengaman dan tali, dan sepenuhnya bergantung pada kemampuan dan pengalaman pemanjat itu sendiri. Resiko dari Solo Climbing tidaklah main-main, karena nyawa adalah taruhannya disini.
Miftah, biasanya dipanggil, Emip, bukannya tidak tahu resiko yang diambil, karena Solo Climbing yang dilakukannya adalah keinginannya sendiri bukan dorongan dari pihak lain. Dan bagaimanapun juga olah raga panjat tebing sendiri sudah mengandung resiko bahaya bagi para pemanjat apapun gaya dan teknik pemanjatan yang dilakukan.
Jalur "Mbah Jambrong" Grade 5.10, Tower 3, Gunung Parang
Prestasi yang bersejarah ini, membuktikan bahwa anak kampung Cihuni, berbakat untuk menjadi pemanjat tangguh yang lahir secara alami, dan pantas untuk disejajarkan pemanjat kelas dunia lainnya.
Rute “Mbah Jambrong” yang digunakan Miftah untuk melakukan solo climbing adalah rute baru yang dibuatnya bersama Heri “Caca” dan anak-anak muda kampung Cihuni lainnya. Rute ini adalah rute pemanjatan “Trad”, yang sepenuhnya mengandalkan pengaman “Friend” dan “Chockstone, dan hanya pada masing-masing Pitch dipasang “Bolt” untuk “Anchor”, dan memiliki tingkat kesulitan 5.10.
Bukannya tanpa kesulitan Miftah melakukan solo climbing di rute ini, pada rute Pitch 2 ke 3 terjadi sedikit ketegangan karena salah satu pijakannya meleset saat melakukan gerakan “Dyno”, namun akhirnya bisa diselesaikan dengan sukses.
Target selanjutnya, Miftah akan melakukan solo climbing di rute legenda “240” Tower 2, Gunung Parang, dan jika ini berhasil, maka target-target internasional segera dilakukannya dengan mencari beberapa sponsor untuk mendukung pemanjatan solo lainnya.
Semoga sukses dan Allah SWT selalu memberkati dan menyertaimu !
Lihat videonya di Youtube !
An achievement and a new record has been created by a hometown boy Cihuni, Mount Parang, Miftah, the day-to-day work as a freight truck driver, perform solo climbing on the route "Mbah Jambrong", Grade 5:10, Tower 3 Mount Parang.
Created a new record date of January 2, 2014, shows that the world of rock climbing Indonesia entered the more extreme level, since the climbing was first introduced in Indonesia by Harry Suliztiarso and friends from Skygers.
Solo Climbing is a climbing skill without the use of safety devices and ropes, and wholly dependent on the ability and experience of climbing itself. The risk of Solo Climbing is not messing around, because lives are at stake here.
Miftah, usually called, Emip, instead of do not know the risks taken, as Solo Climbing is desire itself does not encouragement from others. And after all sport climbing itself already contains a hazard for any climber climbing styles and techniques are performed.
This historic achievement, proving that the village boy of Kampung Cihuni, gifted to be a strong climber who was born naturally, and deserve to be aligned more world-class climbers.
These "Mbah Jambrong" climbing route that Miftah used to perform solo climbing a new route that is made with Heri "Caca" and young children Cihuni other villages. Climbing routes are "Trad", which fully rely on safety "Friend" and "Chockstone, and only on each Pitch installed" Bolt "to" Anchor ", and has a level of difficulty 5:10.
Not without difficulty Miftah do solo climbing on this route, the route Pitch 2 to 3 occurs a little tension because one slip footing when the motion "Dyno", but eventually can be completed successfully.
The next target, Miftah will perform solo climbing in the legend route is "240" Tower 2, Mount Parang, and if this is successful, then the international targets immediately do with looking for some
Jika anda pernah mendengan kalimat di atas, memang benar adanya ! Disini anda jangan berharap lebih dan mendapati pelayanan memuaskan dari kami, disini anda jangan meminta sesuatu yang umum dijumpai atau tersedia di tempat wisata-wisata lainnya. Lupakan itu semua !
Jamie dan kawan-kawan ketika berkunjung ke Badega Gunung Parang
Di Badega Gunung Parang, anda kami ajak keluar dari zona nyaman berwisata, dan menemukan sesuatu yang hilang dari hidup anda, yaitu PETUALANGAN !!! Jika anda berpikir ini bukan tempat wisata yang layak, memang benar adanya !
Sebastian dan rombongan setelah pembuatan film panjat tebing
Karena kami tidak menyediakan kelayakan ataupun kenyamanan, tetapi kami mengajak anda untuk belajar tentang alam dengan segala kelebihannya dan manusia dengan segala kekurangannya. Lihatlah diri anda, apakah anda siap kemari ? Sebuah tantangan menanti anda disini
Emil dan kawan-kawan, setelah belajar panjat tebing di Badega Gunung Parang
Hari ini, tepat tanggal 17 Desember 2014, Badega Gunung Parang berusia 1 tahun, sebuah perspektif baru untuk sebuah gerakan kepedulian untuk sebuah Gunung dan kehidupan yang lebih baik telah muncul. Perjalanan ini masih panjang, tetapi beragam kisah telah lahir seperti sebuah bayi yang terlalu cepat untuk dilahirkan. Dan ini menjadi takdir bagi kita semua di Badega Gunung Parang, bahwa membangun sebuah rumah dari sebuah mimpi adalah tidaklah mudah, perlu perjuangan dan bahkan pengorbanan. Tidak ada cerita bahwa Gunung Parang akan menjadi bongkahan gunung emas, dengan kita hanya berdiam dan menyombongkan diri, tanpa kita mampu menyepuhnya. Dan hanya bualan belaka bahwa kita adalah pembuat sejarah disini, tanpa kita meneruskan dan mewujudkan sejarah itu. Mimpi besar lahir dari sebuah pikiran dan ide gila, dan untuk mewujudkannya adalah sebuah perjuangan di lautan kesabaran yang tiada akhir. Tidak mudah dan tidak sulit, hanya dibutuhkan keyakinan !
Alam menunjukkan jalannya
Alam telah memilih dengan sendirinya, Alam telah menunjukkan jalannya kepada kita semua. Tanpa kita sadari kita melangkah dituntun melalui arah yang telah ditentukan, tanpa kita pahami awalnya mengapa kita harus melakukannya dalam membangun Badega Gunung Parang. Dan di akhir barulah kita memahami semua proses itu, dan tanpa perlu lagi kita memperdebatkannya. Alam memang menuntun kita dengan indah dalam berproses membangun Badega Gunung Parang.
Bale Semah di Badega Gunung Parang
Zona demi zona mulai dibuka di kaki Gunung Parang, masalah demi masalah datang silih berganti, seolah sebuah proses. Dan di akhir waktu, zona yang telah dibuka kembali ditutup, karena memang tidak layak untuk dibuka. Awalnya kita tidak paham mengapa zona yang sudah dibuka harus ditutup, tetapi dengan berprosesnya waktu, barulah kita memahaminya. Alam telah menunjukkan jalannya.
Satu Tumbang Satu Tumbuh !
Bagai sebuah bunga di alam liar, satu berguguran di telan musim, dan bibit baru tumbuh di pucuk musim. Inilah sebuah proses regenerasi alami yang terjadi di Badega Gunung Parang, tanpa harus kita turut campur didalamnya. Biarkan bunga yang sudah layu dan pohon yang mati tumbang dengan sendirinya, dan bibit-bibit bunga dan tanaman yang segar bermunculan, karena alam sudah mengaturnya.
Bunga Semusim, Bunga Bakung
Kita tidak pernah memusingkan sebuah generasi akan hilang dengan sendiri, karena ketidaksabaran dan egonya masing-masing. Tapi kita akan pusing jika sebuah generasi tumbuh tanpa memiliki rasa dan asa untuk hidup lebih baik. Sekali lagi, satu tumbang maka satu tumbuh !
Sebuah Perspektif Baru
Tanpa harus meminta, tanpa harus menangis, proses pembangunan Badega Gunung Parang terus berjalan meski tertatih-tatih. Bukannya tidak meminta dan memohon, semua sudah berjalan dan berproses, dan beragam cara sudah dilakukan dengan sengaja dan tidak disengaja, tapi yang ada adalah sebuah harapan di ruang kosong. Seperti rayap membangun rumahnya, sedikit demi sedikit Badega Gunung Parang terus membentuk zona demi zona di kaki Gunung Parang sampai dengan puncaknya. Semua dilakukan untuk melindungi Gunung Parang dari perambahan hutan dan perburuan liar satwanya, dan Badega Gunung Parang hanya memanfaatkan kecantikan Gunung Parang! Jangan ditanya, berapa banyak dokumen dan rancang bangun beragam zona di Badega Gunung Parang yang sudah dibuat dan direncanakan, mungkin saat ini sudah masuk ke halaman ke seribu ! Semua lengkap dan mungkin lebih lengkap dari sebuah proyek pembangkit listrik. Hah? Ilmu rayap kita gunakan untuk melangkah dan membangun. Tidak ada yang tidak mungkin, semua berjalan dengan perlahan tapi pasti. Dan sebuah perspektif sebuah wisata baru telah lahir ! Baca juga Bagian Pertama
Jika bertutur tentang Badega Gunung Parang, kita bertutur tentang keikhlasan dan kesabaran untuk sebuah gunung batu terbesar di Asia Tenggara.
Bersama Bupati Purwakarta, Bp. H Dedi Mulyadi SH
Beragam perjalanan hidup ada disini mulai dari petani, pengangguran, pekerja non formal ataupun profesional, mantan preman, sopir truk, buruh pabrik, pejabat, pensiunan semua dengan satu tujuan! Menjaga dan dijaga Gunung Parang untuk masa depan kelak, bukan untuk hari ini tetapi untuk masa depan.
Disini beragam profesi dan latar belakang berkumbul mengolah rasa dan asa di Badega Gunung Parang
Ini bukan tempat wisata yang sekedarnya, ini tentang sebuah akumulasi perjalanan puluhan tahun bahkan ratusan tahun, yang akhirnya membuncah di akhir tahun 2013. Dan jika dihitung oleh para leluhur tahun itu berjumlah 5 (lima) sesuai dengan shalat 5 (lima) waktu yang menjadi pilar dasar agama Islam.
Dan amanah pun di emban dengan keikhlasan dan kesabaran
Di Badega Gunung Parang, semua orang terus belajar tentang kehidupan dan budaya yang berkelanjutan, mengolah rasa dan asa, menyatukan jiwa dengan seluruh isi alam dan pemilik Nya.
Dan akhirnya hanya tinggal memilih sisi hitam atau sisi putih, sudah tidak ada lagi abu-abu disini, karena para leluhur sudah memilihkannya untuk kita disini, memilih masa depan masing-masing.
Ketika Amanah diemban, maka seluruh konsekuensinyapun di tanggung
Ketika ramalan para leluhur satu persatu mulai membuncah, dan seluruh 'Dangiang' bersimpuh kembali di Gunung Parang, maka kesabaran dan keikhlasan kembali diuji pada titik nadir para Badega Gunung Parang. Suka atau tidak suka, kita menerima dan mengemban amanah para leluhur dan para dangiang yang ada disini untuk menjaga dan dijaga Gunung Parang, dalam pertempuran hawa nafsu duniawi yang tiada habis.
Dari yang tua dan yang muda menyatukan asa dan rasa di Badega Gunung Parang
Tidak dapat dipungkiri, ketika Badega Gunung Parang mulai membuka tirai kelambu penutup Gunung Parang ke seluruh dunia, beragam konsekuensipun mau tidak mau harus siap ditanggung.
Beragam penyakit hati dari yang positif sampai dengan yang negatif, menghujam lurus ke arah para Badega.
Namun dibalik semua ini, ada sisi lain yaitu Gunung Parang mulai menjejakkan pengaruhnya di bumi dan mengenalkan dirinya ke pentas dunia, dan mulailah menarik para pemerhati yang sebelumnya tidak pernah memikirkannya.
Bersama-sama Mengantar Gunung Parang ke pentas dunia
Orang dari beragam pelosok menghampirinya, ada yang berniat baik dan tulus, ada yang berniat mengeksploitasinya, ada yang berniat menggagahinya, semua nafsu duniawi mengitari Gunung Parang, seperti semut yang mengitari gula, sungguh manis.
Menjaga dan Dijaga oleh Gunung Parang (kutipan wejangan H. Dedi Mulyadi SH, Bupati Purwakarta)
Namun kami dengan kerendahan hati dan jiwa selalu berdoa atas nikmat dan amanah yang harus diemban ini.
Berat memang, tetapi harus kami tanggung semua konsekuensinya, baik pahit ataupun manis.
Karena sesungguhnya Gunung Parang akan memilih, bukan untuk dipilih, yang terbaik untuk anak cucu kita di masa depan.
Bale Semah tempat berkumpul para Badega Gunung Parang
Dan di Badega Gunung Parang semua hawa nafsu, keserakahan, emosi, ditanggalkan, dan kita telanjang dalam lautan rasa dan asa.
Cerita dan tulisan tentang Gunung Parang sudah banyak beredar di internet ataupun media masa. Mulai dari tentang potensi panjat tebing, wisata alam, ataupun soal mistisnya. Namun yang menulis tentang sejarah ataupun tentang formasi geologi gunung batu andesit ini, sedikit sekali, bahkan hampir tidak ada sama sekali. Entah itu tulisan atau kajian ilmiah, atau sekedar analisa sejarah, semua itu tidak ada sama sekali, atau mungkin hanya menumpuk di lemari arsip atau di laporan-laporan yang tidak dipublikasikan. Intinya, tidak ada referensi ilmiah berkaitan dengan Gunung Parang yang dapat dijadikan pijakan !
West Face of Mount Parang
Potensi tentang Gunung Parang sendiri sudah cukup terbukti sebagai wahana wisata alam yang sangat dahsyat. Namun langkah-langkah pengembangannya sangat tertatih-tatih, karena pihak komunitas warga Badega Gunung Parang melakukannya dengan kekuatan sendiri dan belum ada bantuan dari pihak manapun. Sangat menggemaskan sekali, seperti layaknya seorang putri cantik yang baru bangun tidur dan belum dipoles 'make up'.
Tower 1 & Tower 2, Mount Parang
Di Indonesia sendiri, gunung batu andesit cukup banyak bertebaran dari mulai Jawa, Kalimantan, Sumatera, sampai dengan Papua. Namun untuk gunung batu andesit yang miliki keunikan dan formasi geologi yang dahsyat serta dekat dengan kota besar, mungkin hanya Gunung Parang. Belum lagi ditambah beberapa situs-situs megalitikum masih menyisakan tanda tanya sekitar Gunung Parang, makin menambah pekerjaan rumah bagi siapa saja yang berminat terjun di Badega Gunung Parang untuk bergabung. Tunggu apa lagi, ayo kita bekerja bersama-sama disini menyingkap misteri dan sejarah yang ada di Gunung Parang.
Pesta Seni dan Budaya di Badega Gunung Parang akan diadakan tanggal 28 Mei 2014, acara yang digagas oleh Badega Gunung Parang dan Pemerintah Kabupaten Purwakarta, akan berlangsung mulai pagi sampai tengah malam.
Acara ini juga diisi oleh bakti sosial (Pengobatan Gratis dan Khitanan Masal) untuk masyarakat sekitar Gunung Parang dan malamnya dilanjutkan dengan acara Apresiasi Seni dan Budaya.
Diharapkan acara ini dapat memberi manfaat bagi masyarakat dan sekali merengkuh beragam tujuanpun tercapai demi pengembangan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat di sekitar Gunung Parang.
Jika berbicara tentang Badega Gunung Parang, maka kita harus berbicara sebuah perjalanan tanpa akhir. Karena disini kami terus bekerja untuk pengembangan sumber daya manusia yang kelak melanjutkan perjuangan dan cita-cita perintisan Badega Gunung Parang.
Disini, kami tidak hanya membuat sebuah wisata yang sederhana. Tetapi mungkin paling komplek sedunia, bagaimana tidak, disini kami harus memikirkan pengembangan sumber daya manusia sampai dengan pengembangan kawasan wisata Gunung Parang. Dengan harapan suatu saat nanti disini akan menjadi kawasan wisata yang bermanfaat bagi warga sekitar, bukan oleh para investor. Karena sudah banyak lokasi wisata yang hancur karena tidak terkelola dengan baik dan hancur karena ketidakmampuan masyarakat mengelolanya dan akhirnya tergerus oleh investasi yang membabi buta tanpa ada penataan.
Masalah ini sebenarnya sudah dipikirkan sejak awal pembuatan 'master plan' untuk Badega Gunung Parang, dari segi sosio budaya, lingkungan, dan dampaknya. Karena bagaimanapun hasil akhir dari wisata ini diharapkan akan kembali kepada masyarakat sekeliling Gunung Parang.
Dengan niat tulus dan ikhlas, kita memulai perjalanan tanpa akhir di Badega Gunung Parang.
Jika ke Purwakarta, maka sempatkanlah main ke Badega Gunung Parang, sebuah tempat eksotis di kaki Gunung Parang, tepatnya di Kampung Cihuni, Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta. Sekitar 18 km dari pusat kota Purwakarta, atau 3 jam dari Jakarta.
Disini anda dapat menemui sebuah keunikan wisata alam dan petualangan untuk berbagai umur, mulai panjat tebing, trekking ke hutan dan gunung, menjelajah kampung, bermain di sawah dengan kerbau, atau mungkin hanya sekedar beristirahat minum kopi dan makan pisang goreng sambil memandang dinding Gunung Parang yang menjulang ke langit.
Lupakan basa-basi ala hotel atau resort, disini anda tidak akan menemui hal itu. Anda akan menjumpai keramahan ala kampung, bahkan kampungan sekali serta ala kadarnya, jadi anggaplah anda pulang kampung ke rumah kakek atau nenek.
Bapak Bupati Purwakarta, H Dedi Mulyadi SH mengunjungi tempat wisata Badega Gunung Parang
Para tamu menikmati suguhan khas kampung Cihuni, Nasi Liwet
Bapak H Dedi Mulyadi SH, Bupati Purwakarta, menandatangani kelotok kerbau sebagai maskot BADEGA GUNUNG PARANG
Kelotok kerbau yang telah ditandatangani dikalungkan kepada Kang Wawan Lukman Hidayat, sebagai Ketua BADEGA GUNUNG PARANG
Karinding Bambu yang dimainkan oleh KASUNDA, menambah gemuruhnya suasana di kaki gunung Parang
Foto Bersama Bupati Purwakarta, Bp. H Dedi Mulyadi SH, sekarang dan selamanya semua melebur menjadi Badega Gunung parang
KASUNDA on stage bersama kerbau di latar belakang
Kursus singkat Karinding bersama KASUNDA
Masyarakat Kampung Cihuni berpesta
Bapak Camat Tegalwaru, bergembira bersama
Generasi penerus Kampung Cihuni
Kelak mereka yang akan mewarisi BADEGA GUNUNG PARANG
Pertama kali dalam sejarah Gunung Parang, terjadi pesta Rakyat yang diadakan di Kampung Cihuni.
Pesta Rakyat yang diadakan oleh Badega Gunung Parang adalah awal dari revitaliasi budaya Sunda yang ada di wilayah Gunung Parang.
Bekerja sama dengan komunitas karinding sunda (KASUNDA) dari Rancaekek, Bandung, pimpinan Asep Hendra, secara sporadis memaikan karinding di tengah keheningan Gunung Parang yang megah, dan membawa para penonton ke imajinasi purba di kala Gunung Parang Parang masih dibawah kerajaan Pajajaran.
Kelak pesta ini akan diadakan setahun sekali dan merupakan event tahunan yang akan digelar di kaki Gunung Parang.
Cek foto lengkapnya di http://facebook.com/kampungcihuni
Foto Bersama dengan Bupati Purwakarta, Bp. H Dedi Mulyadi SH, 17 Desember 2013
Tepat jam 11.30, di lokasi wisata kampung dan petualangan, BADEGA GUNUNG PARANG, yang terletak tepat di kaki Gunung Parang, Kampung Cihuni, Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta, secara simbolis dalam upacara adat yang sederhana, Bupati Purwakarta, Bapak H Dedi Mulyadi SH meresmikan kampung wisata ini dengan menandatangani kelotok kerbau dan mengalungkannya di leher ketua Badega Kang Wawan Lukman Hidayat.
Upacara adat yang disaksikan oleh beberapa undangan yang hadir diantaranya para pejabat dan staf Pemda Purwakarta, Camat Tegal Waru beserta staff Muspika lainnya, dan sesepuh serta warga kampung Cihuni sekitarnya.
Dalam Upacara Peresmian ini, Bapak Bupati juga memberikan bantuan Dana Pengembangan wisata BADEGA GUNUNG PARANG sebesar Rp. 300 juta, yang nantinya akan digunakan oleh BADEGA GUNUNG PARANG sebagai modal untuk pengembangan dan konservasi budaya serta lingkungan di wilayah Gunung Parang sekitarnya.
Pembangunan wisata BADEGA GUNUNG PARANG sendiri adalah murni swadaya dari masyarakat Kampung Cihuni tanpa bantuan dari pihak manapun, karena proyek ini awalnya adalah mimpi dan sempat dipandang sebelah mata oleh berbagai pihak.
Namun kini, wisata BADEGA GUNUNG PARANG siap untuk tampil dan membawa Purwakarta dan Jawa Barat ke kancah pariwisata Nasional dan Internasional selangkah demi selangkah dengan membawa keunikannya sendiri.
Jika ke Purwakarta, maka sempatkanlah main ke Badega Gunung Parang, sebuah tempat eksotis di kaki Gunung Parang, tepatnya di Kampung Cihuni, Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta. Sekitar 18 km dari pusat kota Purwakarta, atau 3 jam dari Jakarta.
Disini anda dapat menemui sebuah keunikan wisata alam dan petualangan untuk berbagai umur, mulai panjat tebing, trekking ke hutan dan gunung, menjelajah kampung, bermain di sawah dengan kerbau, atau mungkin hanya sekedar beristirahat minum kopi dan makan pisang goreng sambil memandang dinding Gunung Parang yang menjulang ke langit.
Lupakan basa-basi ala hotel atau resort, disini anda tidak akan menemui hal itu. Anda akan menjumpai keramahan ala kampung, bahkan kampungan sekali serta ala kadarnya, jadi anggaplah anda pulang kampung ke rumah kakek atau nenek.